Tren Peradaban

0 komentar
Setiap masa memiliki trennya masing-masing. Begitulah setidaknya yang bisa kita fahami dari bergulirnya sejarah, waktu ke waktu. Amatilah sejarah ketika masa Musa AS dan Harun AS, maka kau kan temukan tren yang booming pada masa itu adalah sihir dan buhul-buhul. Jadi tidak salah jika mukjizat Musa kala itu adalah tongkat yang bisa menjelma ular atau mampu belah samudera. Lalu, amati pula masa dimana Muhammad SAW diutus, ketika itu orang yang paling dihormati adalah penyair sastrawan itu, maka sangat tepat mukjizat yang turun pada Sang Nabi adalah Al -Qur'an yang kualitasnya terlalu tinggi jika harus dibandingkan dengan sastra dan syair mereka, orang-orang pongah Quraisy. Dan pada masa awal hijrah, kala itu sejarah dipenuhi oleh ksatria-ksatria penakluk macam Khalid bin Walid atau Umar bin Khatab. Karena memang orang-orang seperti itulah yang dibutuhkan (saat itu). Bergerak ke masa kejayaan islam era Abasiah hingga Turki Ottoman, kau kan melihat yang dominan pada saat itu adalah para pecinta ilmu, pembangun peradaban. Seperi, ahli kedokteran Ibnu Sina, Bapak sosiologi Ibnu Khaldun dan terlalu banyak lagi. sedikit sekali kita temukan pejuang-pejuang penaklukan yang mungkin sudah dihabiskan di era hirjah. Begitulah sunnatullahnya bahwa setiap masa selalu meminta tipe pahlawan yang berbeda-beda.

Egaliter

0 komentar

ilustrasi: nidyosasongko.blogspot.com
Janganlah kau berjalan di belakangku
Mungkin aku tak mampu memimpin
jangan pula kau berjalan di depanku
mungkin aku tak sanggup mengikuti
tapi, berjalanlah seiring denganku
Dan mari bersama tapaki jalan itu
...

Ini tentang suasana egaliter yang ingin dibangun disini. Adalah kita bisa saling nasihat-menasihati sepanjang jalan ini. Adalah kritik yang mengalir tanpa ada ragu kalau-kalau si obyek kritik tersinggung sakit hati. adalah kau, aku, dia dan kita. Bisa saling berbagi kritik seperti berbagi obat untuk si sakit. meski pahit, memang. Tapi akan lebih pahit lagi jika borok di punggungmu kau ketahui setelah lebar berbau. Padahal kawanmu melihatnya setiap hari tapi enggan memberitahumu karena takut kau malu atau marah. Maka, Nasihat dan kritik adalah bukan pilih-mu tapi wajibmu. untuk ku, untuknya, dan untuk kita.

Episode Pelantikan

0 komentar
Sepagi ini, Pukul 7.00 harusnya Musyawarah kerja dimulai. Namun karena berbagai kendala Baru pukul 7.25 dibuka(?). Bertempat di Ruang Asma Masjid Al Hurriyyah acara dibuka dengan khidmat oleh Akh Mirza. Diawali merdu alunan Qur’an yang dibawakan Akh Amroyan. Dilanjutkan dengan Presentasi program Ketua setiap departemen di Ruang Sidang 2 Masjid Al Hurriyyah. Ya, ruangan berpindah dan saya tidak tahu alasannya. Tak apa.

Al-akh Agit Supriyadi. Komandan Departemen Tahsin ini yang pertama presentasi. Diawali dan diakhiri dengan pantun menjadikan suasana mengalir tanpa ketegangan. Akh Agit mengulas banyak hal tentang perjalanan tahsin 1 tahun ke depan: Open Recruitment, KBM, sampai mekanisme ujian. Detail sekali. Saya kagum dibuatnya.

MPKMB: Sehangat Cinta Anshar Sambut Muhajirin

0 komentar
Lelaki itu penuh peluh kala masuki kota yang benar-benar asing baginya: Madinah. Sebenarnya Ia kaya dan terpandang, hanya saja Iman membuatnya memilih hijrah dengan segala resiko dan peluangnya. Dengan tampilan compang-camping sampailah Ia di Madinah. Oh iya, lelaki ini bernama Abdurahman Ibn Auf, salah seorang muhajirin yang sudah di-tag-kan satu tempat di syurga. Kabar baiknya lagi, Ia disambut oleh seorang anshar: Sa'ad Ibn Ar Rabi. Saking kuatnya ukhuwah, Sa'ad berkata pada Abdurrahman, "Akhi, saya punya 2 orang istri, pilihlah yang kau suka, nanti akan saya ceraikan lalu setelah idahnya habis, silahkan nikahi. Tentang harta saya, akan saya bagi denganmu, Fifty-fifty. Saya yakin kau amat butuh."
Dan Jawaban Abdurahman sesaat lagi adalah jawaban yang menyejarah hingga kini, "Jazaakalloh, semoga Allah memberkahi hartamu. Tunjuki saja dimana letak pasar!", jawabnya sepenuh harga diri.


Hafal, Cukupkah?

2 komentar
ilustrasi: omdidien.com
“Seorang berilmu yang tahu segala, sedang dan masih akan dikatakan dungu atas pengetahuannya sampai ia berusaha untuk mengamalkannya”.
– Al-Fudhail Ibn Iyadh-

Baru-baru ini, Dikatakan dalam Bloom’s Taxonomi bahwa tingkatan-tingkatan dalam menuntut ilmu diawali dengan kemampuan remember atau mengingat. Setelah itu, adalah kemampuan understand atau memahami. Setelah benar-benar paham, maka kita harus naik ke tingkat selanjutnya, yakni apply atau mengamalkan/mengaplikasikan. Tidak berhenti sampai disini, selanjutnya dituntut kemampuan analysis atau analisis. Setingkat diatas itu adalah kemampuan evaluate atau mengevaluasi ilmu. Yang namanya manusia, mesti saja ada keliru dalam membentuk sebuah teori atau sains. Maka, kemampuan mengevaluasi di perlukan disini. Dan, tingkatan tertinggi dari kemampuan menuntut ilmu adalah create atau menemukan ilmu baru. Bukankah ilmu manusia adalah setetes air berbanding samudera  ilmu Tuhanmu? Maka, akan selalu saja hadir ilmu-ilmu baru atau memperbarui.

FLP, Mengapa Mesti?

0 komentar
Jika ditanya, mengapa saya ingin bergabung di FLP? Biasanya saya akan terdiam. Karena memang tidak ada alasan yang jelas mengapa saya masuk FLP. Yang ada hanya seberkas dorongan alami yang tiba-tiba hadir saat saya membaca pengumuman penerimaan anggota baru FLP di Facebook. Saat itu juga saya segera mengisi formulir online nya tanpa piker panjang. Mungkin sebenarnya ada alasan, tapi saya kesulitan mengungkapkannya. Atau, mungkin ada, tapi terlalu rumit untuk dituliskan. Yang pasti, semoga Allah memberkahi sejumput niat saya ini.

Masjid dan Setumpuk Rindu

0 komentar

Masjid Al Hurriyyah tercinta
Bicara tentang masjid, maka kita harus membuka kembali kotak rindu kita. Masjid, disitu tersimpan rindu kita pada sosok al-Amin. Pada merdu lantunan Qur’annya dalam memimpin rangkaian shalat. Pada Khutbah-khutbah yang menusuk kesadaran sahabat dahulu. Disitu ada Rasullallah SAW yang bersedia setiap saat mendengar setiap keluh dan kesah. Ada Sang Nabi yang senantiasa membagi senyum dan menampung gundah. Ada Muhammad ibn Abdullah yang tatapnya saja mampu meluluhkan hati keras membatu. Yang ketika member nasihat, Para sahabat berebut dan berlomba melaksanakannya.